MEMAKMURKAN MASJID

Masjid stiba - wahdah islamiyah

MEMAKMURKAN MASJID

Oleh: ustadz Maulana La Eda, Lc. MA.

Seorang orientalis barat pernah berkata: “Umat Islam akan senantiasa jaya bila mereka selalu berpegang teguh dengan Al-Quran dan memakmurkan masjid”. Ucapan populernya ini tentunya tidak muncul dari hayalan semata, namun ia adalah satu kesimpulan akhir dari penelitian dan pengkajian sejarah Islam yang ia tekuni dengan misi membantah dan meruntuhkan ajaran aqidah dan syariat Islam. Meskipun kita tidak menjadikan ucapannya sebagai dalil, bahkan kita menganggap dirinya sebagai musuh Islam, namun kita mesti membenarkan kesimpulan ini sebab faktanya peradaban Islam tidaklah jaya dan memancarkan cahaya hidayah melainkan berawal dari masjid yang merupakan pusat aktifitas keislaman.

Baca juga: Keutamaan Shalat Fardhu Di Masjid

Masjidlah yang menjadi parameter kejayaan umat ini selama berabad-abad, sebab ia adalah lambang keislaman dan syiar keimanan yang menjadi kekuatan umat Islam. Namun nampaknya, sekarang ini betapa banyak masjid yang berdiri gagah tak ubahnya istana-istana megah namun hanya sekedar menjadi bangunan bisu yang terabaikan, atau bangunan kosong yang sangat sedikit dari kalangan umat Islam yang mau mengunjungi dan memakmurkannya minimal lima kali sehari semalam. Bila shalat berjamaah di masjid saja sangat berat dilakukan maka apatah lagi bila harus menjadikannya sebagai pusat peradaban dan aktifitas keislaman, tentu akan lebih berat lagi. Sebab itu, solusi utama untuk mengembalikan masjid sesuai misi dan fungsi utamanya adalah memakmurkannya dengan berbagai jenis ibadah dan aktifitas keislaman, pendidikan dan sosial. Hal ini bisa dipahami secara tersirat dari firman Allah tentang memakmurkan masjid yang Dia selipkan dalam ayat-ayat yang memotivasi perjuangan Islam, sebagaimana dalam Surat At-Taubah ayat 18: “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Ayat ini sekaligus mengisyaratkan pada kita semua bahwa orang yang benar-benar memakmurkan masjid Allah secara ikhlas, bukan karena agar dipuji dan mengharapkan ganjaran dunia semata: memiliki empat kriteria:

  1. Beriman kepada Allah dan hari kiamat.
  2. Mendirikan shalat karena ia merupakan rukun terpenting dalam Islam setelah dua kalimat syahadat.
  3. Menunaikan zakat bagi yang mampu, ini juga merupakan salah satu rukun Islam.
  4. Merasa takut atau khasy-yah kepada Allah, beribadah dengan penuh keikhlasan, rasa takut dan harapan akan ampunan-Nya.

Sebagian muslim menganggap bahwa cara memakmurkan masjid hanyalah sekedar mendatangi dan meramaikannya pada waktu-waktu shalat lima waktu dan shalat jumat saja, padahal memakmurkan masjid dan menjadikannya sebagai pusat dan sumber peradaban Islam tidak hanya sekedar dengan meramaikannya dalam waktu-waktu shalat, tetapi bisa diwujudkan dengan berbagai aktifitas keIslaman lainnya diantaranya:

Membangun masjid dan menjaga keindahan dan kebersihannya.

Membangun masjid merupakan amalan yang sangat utama dalam Islam karena memberikan manfaat dan bantuan yang besar terhadap umat Islam dalam menjalankan ibadah dan aktifitas keIslaman mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang membangun sebuah masjid karena Allah, niscaya Allah akan membangunkan baginya rumah di surga”. (HR Muslim: 24).

Mendatanginya untuk shalat lima waktu berjamaah.

Shalat lima waktu berjamaah ini merupakan salah satu kewajiban muslim yang mesti ditunaikannya dalam sehari semalam sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang mengancam orang yang tidak shalat berjamaah di masjid untuk membakar rumah-rumah mereka: ”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti shalat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka” (HR Bukhari: 7224)

Menjadikannya sebagai tempat zikir, baca Al-Quran dan bermunajat kepada Allah Ta’ala.

Seorang muslim hendaknya menjadikan masjid sebagai tempat membaca dan mentadabburi Al-Quran baik secara sendiri-sendiri ataupun berjamaah, juga sebagai tempat melakukan zikir-zikir yang dianjurkan seperti zikir pagi petang, zikir biasa (muthlaq), atau zikir setelah shalat, serta menjadikannya sebagai tempat bermunajat dan banyak berdoa kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah memuji mereka yang menjadikan rumah-rumah-Nya sebagai tempat ibadah sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petan: laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan dari membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka mengerjakan yang demikian itu supaya Allah memberi balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunian-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS An-Nur: 36-38).

Membentuk halaqah belajar baca Al-Quran atau halaqah tahfidzh (hafalan Al-Quran).

Tentunya dengan adanya halaqah ini, masjid akan sangat berguna bagi masyarakat Islam karena darinya akan lahir pemuda-pemudi muslim yang bisa fasih membaca Al-Quran atau menghafalkannya, serta bisa mengamalkan kandungannya dalam keseharian mereka.

Membentuk majelis pembinaan (tarbiyah) atau kajian-kajian keislaman.

Dengan adanya majelis pembinaan atau kajian Islam di masjid, maka umat Islam pun akan tercerahkan dengan berbagai ilmu keislaman yang bisa menguatkan iman, memperbaiki akhlak dan menambah taqwa mereka kepada Allah Ta’ala. Kajian masjid inilah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya zaman dahulu, mereka menjadikan masjid sebagai pusat ilmu dan kajian keIslaman, sebagaimana yang banyak dikisahkan dalam sejarah perjalanan hidup beliau.

Menjadikan masjid sebagai tempat musyawarah.

Sejarah Islam mencatat bahwa kebanyakan musyawarah Nabi dan para sahabatnya adalah di masjid, sehingga ini merupakan sunnah beliau yang mesti dijaga.

Tentunya, setiap muslim sangat diharuskan untuk memakmurkan masjid sesuai kemampuannya, baik dengan bentuk materi maupun non materi sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Oleh karena itu, marilah kita berusaha untuk memakmurkan masjid-masjid Allah sesuai kesanggupan kita semua, sebab keimanan yang sempurna itu hanya ada pada diri orang-orang yang memakmurkan masjid-Nya, dan merekalah yang mendapat petunjuk dan akan meraih surga-Nya kelak. Dengan kembalinya misi masjid seperti dahulu kala lewat proses memakmurkannya dengan berbagai kegiatan atau aktifitas keIslaman, sosial, dan pendidikan, maka umat Islam akan menjadi kuat dari segi iman dan ilmu, meraih kejayaan peradaban, serta akan ditakuti oleh musuh-musuh mereka. Wallaahu a’lam.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *